Senyum itu tidak memiliki pemilik, tanpa mata, tanpa hidung, tidak membutuhkan wajah untuk memamerkan keindahannya. Senyum itu melebar semakin serakah, kali ini hingga keluar layar dengan liurnya yang menetes di atas sajadah. Ia mulai memakan ujung benang sajadah, tanpa terburu-buru, tanpa henti, inci demi inci. Sajadah itu perlahan kehilangan kiblatnya, semakin mengecil tergulung oleh kunyahan senyum yang tak henti merekah.
Ingatanku mulai menghilang ketika bagian tengah sajadah tertarik si senyum dengan terpaksa. Aku tidak panik, bibirku ikut melengkung membalas senyum persis seperti yang ada di layar, lebar hingga otot pipiku hampir terkoyak. Hanya ada dua hal yang tersisa disini, satu senyum di layar dan satu senyum di wajahku. Aku tidak takut, aku hanya tinggal menunggu sajadah ini lenyap, dan laptopku mati dengan senyap. Sementara dunia di luar sana mendadak tidak memiliki lagi alasan untuk tetap ada, dan aku menjadi kosong sepenuhnya.
Komentar
Posting Komentar