Langsung ke konten utama

Merekah Satu Tingkat di atas Sajadah

Aku bersimpuh di atas sajadah yang tidak terbuat dari kain bulu, namun sepetak kulit berbulu yang masih hangat, seolah baru saja selesai dikuliti entah dari punggung siapa. Persis di depanku, laptopku terbuka. Kabel pengecasnya tidak tercolok ke stopkontak, aku menjilati ujung besi yang dingin itu dengan pangkal lidahku, hambar. Di layar, indikator baterai bertambah, namun layarnya tidak menampilkan deretan jendela aplikasi maupun folder sampah lainnya, hanya ada satu garis melengkung merah yang berdenyut, persis sebuah senyum. 

Senyum itu tidak memiliki pemilik, tanpa mata, tanpa hidung, tidak membutuhkan wajah untuk memamerkan keindahannya. Senyum itu melebar semakin serakah, kali ini hingga keluar layar dengan liurnya yang menetes di atas sajadah. Ia mulai memakan ujung benang sajadah, tanpa terburu-buru, tanpa henti, inci demi inci. Sajadah itu perlahan kehilangan kiblatnya, semakin mengecil tergulung oleh kunyahan senyum yang tak henti merekah. 

Ingatanku mulai menghilang ketika bagian tengah sajadah tertarik si senyum dengan terpaksa. Aku tidak panik, bibirku ikut melengkung membalas senyum persis seperti yang ada di layar, lebar hingga otot pipiku hampir terkoyak. Hanya ada dua hal yang tersisa disini, satu senyum di layar dan satu senyum di wajahku. Aku tidak takut, aku hanya tinggal menunggu sajadah ini lenyap, dan laptopku mati dengan senyap. Sementara dunia di luar sana mendadak tidak memiliki lagi alasan untuk tetap ada, dan aku menjadi kosong sepenuhnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelarian dari Kehidupan yang Melankolis, Makna Lagu Barasuara - Hitam dan Biru

Pada 21 Juni 2024, Barasuara telah merilis album ketiga mereka yang berjudul ‘Jalaran Sadrah' yang diambil dari bahasa jawa yang bermakna karena pasrah. Album ini memiliki jangka 4 tahun dari album sebelumnya yang bertajuk ‘Pikiran dan Perjalanan’. Lirik yang ditulis dalam lagu Hitam dan Biru merupakan hasil olah pikir Iga Massardi dan juga komposisi dari Puti Chitara, ditambah dengan sentuhan legenda musik Indonesia yakni Erwin Gutawa serta dilanjutkan oleh Czech Symphony Orchestra kian membuat kesan yang mewah dan mendalam.  Hitam dan biru membawa suasana kelam dalam kehidupan, pelarian seseorang dari banyak masalah dan rintangan. Lagu ini mengingatkan kita bahwa sejauh apapun kita lari dari kehidupan, pastinya akan terkejar. Kita adalah manusia yang entah benar atau salah, lawan segala masalahmu, jangan lari. Hitam dan Biru – Barasuara Di batas petang aku akan datang Bawa berita kurang menyenangkan Tentang hidupku, tentang hidupmu Yang penuh pertanyaan, penuh penyangkalan Mengap...

Varemara

(ilustrasi pulau menggunakan bantuan ai) Penghuni pulau ini tidak makmur, tidak kaya, tidak pintar, sedikit bahagia, kurang lebih seperti itu jawaban dari kuli angkut di dermaga. Padahal, pikirku pulau ini begitu makmur dengan hutan bakau di sekitar pantai, pasir putih mengelilingi pulau, hingga terumbu karang yang kaya akan kehidupan. Pulau Varemara namanya, ujar kuli angkut sambil menurunkan barangku di hostel. “Nama yang bagus! Bukankah begitu?”—respon ku spontan. “Segala hal terlihat indah nak. Tak segala yang indah dan sedap dipandang selalu baik, ingatlah itu. Oh, kalau butuh bantuan, hubungi diriku ya”, ia pergi setelah menerima upahnya. Aku iri pada Varemara mulai awal langkahku memasuki Varemara, penerima turis disini begitu ramah, aksen bahasa yang halus, serta tidak sedikitpun ada pungutan liar, duhai tenangnya. Harapku nyaman tinggal disini hingga kematian nanti, pikirku dalam hati. Hostel tempatku tinggal begitu sederhana, perpaduan antara semen dan kayu jati membuatnya el...

Sosok Tunggu Kiris di Kosan

Setelah Nongkrong, di kosan sugiono Malam sudah lewat jam sebelas waktu aku akhirnya cabut dari warung kopi. Sisa-sisa obrolan ngalor-ngidul sama anak-anak kampus masih nempel di kepala. Sebelum balik ke kamar, aku mampir dulu ke kosan Sugiono, niatnya cuma mau balikin jaket yang kemarin aku pinjam. Kosan Sugiono ini ada di ujung gang buntu, bangunan tua yang kayaknya udah menyerah sama zaman. Di bawah cahaya remang dari satu-satunya lampu jalan yang masih hidup, tempat itu kelihatan lebih... aneh dari biasanya. Koridornya sempit, temboknya lembap dan penuh bercak jamur. Beberapa genteng kelihatan sudah melorot, bikin langit malam jadi hiasan atap yang bolong. Sandal jepit dan sepatu butut berserakan asal-asalan di depan pintu-pintu kamar yang tertutup rapat. Di sudut, genangan air sisa hujan tadi sore memantulkan cahaya bulan, diam tak beriak. Suasananya hening banget. aku ketuk pintu kamar Sugiono, kayu tripleknya terasa tipis di tangan. "Woy, Gi!" Nggak ada jawaban. Tapi d...