Atas bahagia yang kamu dedikasikan padaku, aku tidak membalasnya, hanya melenggang kesana kemari, seperti terlihat bingung meresponnya. Namun kamu tidak berhenti memberi banyak pandangan terhadapku, tentang luka yang sebenarnya indah, tentang harapan yang sebenarnya pahit, dan lainnya seperti jumlah bintang di langit. Aku tidak tahu pasti, berapa harga dari semua tenaga, pikiran, dan waktu yang kamu berikan untuk kita. Yang aku tahu, aku tidak pernah bersyukur sebelumnya. Membalasmu dengan cambukan emosi, menyerap isi dompetmu, atau sekadar membuang beberapa menit waktu berhargamu ketika beradu argumen. Aku telat menyadari setelah kesalahan besarku kemarin, bahwa denganmu aku tenang, denganmu aku menjadi lebih terurus, denganmu.. aku bahagia, aku tidak terpikir apa kalimat rumit lain yang menggambarkan hal ini, namun singkatnya, aku bahagia, aku bersyukur, dan semoga aku tidak terlambat menyadari itu. Dari bibirmu, aku meresap segala makna, terkadang manis, terkadang sakit, terkadang s...
Setelah Nongkrong, di kosan sugiono Malam sudah lewat jam sebelas waktu aku akhirnya cabut dari warung kopi. Sisa-sisa obrolan ngalor-ngidul sama anak-anak kampus masih nempel di kepala. Sebelum balik ke kamar, aku mampir dulu ke kosan Sugiono, niatnya cuma mau balikin jaket yang kemarin aku pinjam. Kosan Sugiono ini ada di ujung gang buntu, bangunan tua yang kayaknya udah menyerah sama zaman. Di bawah cahaya remang dari satu-satunya lampu jalan yang masih hidup, tempat itu kelihatan lebih... aneh dari biasanya. Koridornya sempit, temboknya lembap dan penuh bercak jamur. Beberapa genteng kelihatan sudah melorot, bikin langit malam jadi hiasan atap yang bolong. Sandal jepit dan sepatu butut berserakan asal-asalan di depan pintu-pintu kamar yang tertutup rapat. Di sudut, genangan air sisa hujan tadi sore memantulkan cahaya bulan, diam tak beriak. Suasananya hening banget. aku ketuk pintu kamar Sugiono, kayu tripleknya terasa tipis di tangan. "Woy, Gi!" Nggak ada jawaban. Tapi d...