Setelah Nongkrong, di kosan sugiono Malam sudah lewat jam sebelas waktu aku akhirnya cabut dari warung kopi. Sisa-sisa obrolan ngalor-ngidul sama anak-anak kampus masih nempel di kepala. Sebelum balik ke kamar, aku mampir dulu ke kosan Sugiono, niatnya cuma mau balikin jaket yang kemarin aku pinjam. Kosan Sugiono ini ada di ujung gang buntu, bangunan tua yang kayaknya udah menyerah sama zaman. Di bawah cahaya remang dari satu-satunya lampu jalan yang masih hidup, tempat itu kelihatan lebih... aneh dari biasanya. Koridornya sempit, temboknya lembap dan penuh bercak jamur. Beberapa genteng kelihatan sudah melorot, bikin langit malam jadi hiasan atap yang bolong. Sandal jepit dan sepatu butut berserakan asal-asalan di depan pintu-pintu kamar yang tertutup rapat. Di sudut, genangan air sisa hujan tadi sore memantulkan cahaya bulan, diam tak beriak. Suasananya hening banget. aku ketuk pintu kamar Sugiono, kayu tripleknya terasa tipis di tangan. "Woy, Gi!" Nggak ada jawaban. Tapi d...
Pagi ini aku berangkat menuju rutinitas membosankan lagi yang aku tak bisa lepas guna menyambung hidup. Pukul 6 pagi aku pergi menyusuri jalanan kota yang tak pernah sepi, dari malam bertemu pagi, bertemu malam, bertemu pagi, lagi. Tiba di kantor yang sedikit sesak, ruangan berbentuk kotak dengan luas 3x3 meter belum termasuk dokumen yang menumpuk hingga setinggi leher, dengan para pekerja lain yang kadang menyenangkan, tetapi tetap semu karena sama-sama berjuang demi sekantong beras, menghidupi atasan dan kembali ke kamar dengan perasaan tak segar, terkadang diiringi hewan pengerat seperti tikus yang sedang lari dikejar si Empus. Ah, aku lupa memberi salam kepada Empus, kucing peliharaan yang aku rawat dengan sepenuh hati, tapi ini kucing, bukan Malika si kedelai hitam. Waktu menunjukkan pukul 5 sore, aku pulang dengan perasaan kesal karena timku kena semprot, karena lengah terhadap kondisi, karena lengah terhadap tradisi. Kami lupa mengucapkan selamat pagi kepada bos di depan mejanya...