Aku bersimpuh di atas sajadah yang tidak terbuat dari kain bulu, namun sepetak kulit berbulu yang masih hangat, seolah baru saja selesai dikuliti entah dari punggung siapa. Persis di depanku, laptopku terbuka. Kabel pengecasnya tidak tercolok ke stopkontak, aku menjilati ujung besi yang dingin itu dengan pangkal lidahku, hambar. Di layar, indikator baterai bertambah, namun layarnya tidak menampilkan deretan jendela aplikasi maupun folder sampah lainnya, hanya ada satu garis melengkung merah yang berdenyut, persis sebuah senyum. Senyum itu tidak memiliki pemilik, tanpa mata, tanpa hidung, tidak membutuhkan wajah untuk memamerkan keindahannya. Senyum itu melebar semakin serakah, kali ini hingga keluar layar dengan liurnya yang menetes di atas sajadah. Ia mulai memakan ujung benang sajadah, tanpa terburu-buru, tanpa henti, inci demi inci. Sajadah itu perlahan kehilangan kiblatnya, semakin mengecil tergulung oleh kunyahan senyum yang tak henti merekah. Ingatanku mulai menghilang...
Setelah Nongkrong, di kosan sugiono Malam sudah lewat jam sebelas waktu aku akhirnya cabut dari warung kopi. Sisa-sisa obrolan ngalor-ngidul sama anak-anak kampus masih nempel di kepala. Sebelum balik ke kamar, aku mampir dulu ke kosan Sugiono, niatnya cuma mau balikin jaket yang kemarin aku pinjam. Kosan Sugiono ini ada di ujung gang buntu, bangunan tua yang kayaknya udah menyerah sama zaman. Di bawah cahaya remang dari satu-satunya lampu jalan yang masih hidup, tempat itu kelihatan lebih... aneh dari biasanya. Koridornya sempit, temboknya lembap dan penuh bercak jamur. Beberapa genteng kelihatan sudah melorot, bikin langit malam jadi hiasan atap yang bolong. Sandal jepit dan sepatu butut berserakan asal-asalan di depan pintu-pintu kamar yang tertutup rapat. Di sudut, genangan air sisa hujan tadi sore memantulkan cahaya bulan, diam tak beriak. Suasananya hening banget. aku ketuk pintu kamar Sugiono, kayu tripleknya terasa tipis di tangan. "Woy, Gi!" Nggak ada jawaban. Tapi d...