Langsung ke konten utama

Kita, melawan dunia.

Atas bahagia yang kamu dedikasikan padaku, aku tidak membalasnya, hanya melenggang kesana kemari, seperti terlihat bingung meresponnya. Namun kamu tidak berhenti memberi banyak pandangan terhadapku, tentang luka yang sebenarnya indah, tentang harapan yang sebenarnya pahit, dan lainnya seperti jumlah bintang di langit. Aku tidak tahu pasti, berapa harga dari semua tenaga, pikiran, dan waktu yang kamu berikan untuk kita. Yang aku tahu, aku tidak pernah bersyukur sebelumnya. Membalasmu dengan cambukan emosi, menyerap isi dompetmu, atau sekadar membuang beberapa menit waktu berhargamu ketika beradu argumen. Aku telat menyadari setelah kesalahan besarku kemarin, bahwa denganmu aku tenang, denganmu aku menjadi lebih terurus, denganmu.. aku bahagia, aku tidak terpikir apa kalimat rumit lain yang menggambarkan hal ini, namun singkatnya, aku bahagia, aku bersyukur, dan semoga aku tidak terlambat menyadari itu.


Dari bibirmu, aku meresap segala makna, terkadang manis, terkadang sakit, terkadang seperti melumat buku-buku sastra, tapi yang jelas…bibirmu enak. Aku yakin pasti bibirmu tidak berdusta, walaupun sesekali aku terpikir, siapa yang pernah terlumat dalam olehnya? Iya, aku cemburu, namun aku tetap mencintaimu hingga melintasi waktu. Dari bibirmu, kita bercumbu dengan malam yang menyeramkan, melewati segala sepak terjang indah bahagia melanglang buana keluar dunia, dari pagi bertemu pagi, dari malam bertemu malam, aku menikmati segala ada yang ada menghiasi kita. Dari bibirmu kita bercumbu dengan segala pedih yang tiap dari kita membawanya dalam kita, saling bertatapan dengan mesra, dalam, dengan nikmat, sejuk.. tapi sebentar, siapa yang pernah kamu lihat seintim selain dariku? Iya, aku cemburu, namun seperti judul suatu buku. Ya, aku mau menghapus bekas bibirnya di bibirmu dengan bibirku. Mendengar namamu, Aufa Nazala Prasanna, hatiku terenyuh, hingga aku sadari bahwa ku mencintaimu sepenuh waktu, sedingin salju, sehangat terbitnya matahari, seindah tenggelamnya matahari, dan se se lainnya yang belum terpikirkan olehku.


Terimakasih dan maaf untuk kekasihku, orang yang telah membuatku menyadari bahwa aku telat menyadari seharusnya aku bersyukur memilikimu, bangga memilikimu, dan akan selalu bahagia memilikimu. You and me against the world kata Mocca, kita bersama ya.


Untukmu kekasihku,

dariku pacarmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelarian dari Kehidupan yang Melankolis, Makna Lagu Barasuara - Hitam dan Biru

Pada 21 Juni 2024, Barasuara telah merilis album ketiga mereka yang berjudul ‘Jalaran Sadrah' yang diambil dari bahasa jawa yang bermakna karena pasrah. Album ini memiliki jangka 4 tahun dari album sebelumnya yang bertajuk ‘Pikiran dan Perjalanan’. Lirik yang ditulis dalam lagu Hitam dan Biru merupakan hasil olah pikir Iga Massardi dan juga komposisi dari Puti Chitara, ditambah dengan sentuhan legenda musik Indonesia yakni Erwin Gutawa serta dilanjutkan oleh Czech Symphony Orchestra kian membuat kesan yang mewah dan mendalam.  Hitam dan biru membawa suasana kelam dalam kehidupan, pelarian seseorang dari banyak masalah dan rintangan. Lagu ini mengingatkan kita bahwa sejauh apapun kita lari dari kehidupan, pastinya akan terkejar. Kita adalah manusia yang entah benar atau salah, lawan segala masalahmu, jangan lari. Hitam dan Biru – Barasuara Di batas petang aku akan datang Bawa berita kurang menyenangkan Tentang hidupku, tentang hidupmu Yang penuh pertanyaan, penuh penyangkalan Mengap...

Varemara

(ilustrasi pulau menggunakan bantuan ai) Penghuni pulau ini tidak makmur, tidak kaya, tidak pintar, sedikit bahagia, kurang lebih seperti itu jawaban dari kuli angkut di dermaga. Padahal, pikirku pulau ini begitu makmur dengan hutan bakau di sekitar pantai, pasir putih mengelilingi pulau, hingga terumbu karang yang kaya akan kehidupan. Pulau Varemara namanya, ujar kuli angkut sambil menurunkan barangku di hostel. “Nama yang bagus! Bukankah begitu?”—respon ku spontan. “Segala hal terlihat indah nak. Tak segala yang indah dan sedap dipandang selalu baik, ingatlah itu. Oh, kalau butuh bantuan, hubungi diriku ya”, ia pergi setelah menerima upahnya. Aku iri pada Varemara mulai awal langkahku memasuki Varemara, penerima turis disini begitu ramah, aksen bahasa yang halus, serta tidak sedikitpun ada pungutan liar, duhai tenangnya. Harapku nyaman tinggal disini hingga kematian nanti, pikirku dalam hati. Hostel tempatku tinggal begitu sederhana, perpaduan antara semen dan kayu jati membuatnya el...

Sosok Tunggu Kiris di Kosan

Setelah Nongkrong, di kosan sugiono Malam sudah lewat jam sebelas waktu aku akhirnya cabut dari warung kopi. Sisa-sisa obrolan ngalor-ngidul sama anak-anak kampus masih nempel di kepala. Sebelum balik ke kamar, aku mampir dulu ke kosan Sugiono, niatnya cuma mau balikin jaket yang kemarin aku pinjam. Kosan Sugiono ini ada di ujung gang buntu, bangunan tua yang kayaknya udah menyerah sama zaman. Di bawah cahaya remang dari satu-satunya lampu jalan yang masih hidup, tempat itu kelihatan lebih... aneh dari biasanya. Koridornya sempit, temboknya lembap dan penuh bercak jamur. Beberapa genteng kelihatan sudah melorot, bikin langit malam jadi hiasan atap yang bolong. Sandal jepit dan sepatu butut berserakan asal-asalan di depan pintu-pintu kamar yang tertutup rapat. Di sudut, genangan air sisa hujan tadi sore memantulkan cahaya bulan, diam tak beriak. Suasananya hening banget. aku ketuk pintu kamar Sugiono, kayu tripleknya terasa tipis di tangan. "Woy, Gi!" Nggak ada jawaban. Tapi d...