Langsung ke konten utama

Manusiawi

 


Wanita di depannya melirih, Tuan sinis. Wanita hanya menuai kegelisahan—pikir Tuan. Tak sudi menyokong badan, Tuan berlalu. Tuan pernah tersakiti karena cintanya terhadap wanita, logikanya cacat. Tuan masih berjalan di trotoar itu, hendak mencari hawa segar nampaknya. Ia lalui fatamorgana, melankolia, gundah gulana, acap serupa dalam pikirannya setiap hari. Oh sial! Seorang rampok berada tepat di depannya, menikmati sebatang ganja dengan binar di wajahnya. Tuan menyebut dengan lirih—“Tenang, mungkin ia memilik maksud lain yang membawa banyak manfaat”—terlalu dalam menyelami sastra klasik dan utilitarian, apakah Tuan seorang utilitarian? Entah, Tuan juga bingung. Tuan pulang dengan nafas yang segar, oh kota yang rupawan nan menyegarkan. 

Di batas petang Tuan kembali menilik De Profundis milik Oscar Wilde, menggebu kalbunya, mengingat hari terlewat pagi. Tuan kesal, ia membanting ponselnya. “SIAL! PARA MANUSIA SIALAN!”—rujuknya kepada dunia di sekelilingnya. Ia merengek sedih tanpa ia sadar telah acuh kepada manusia. 

Tak manusiawi sang Tuan, asalkan tidak merasa sedih, ia bahagia. Egosentris kata manusia pada umumnya, atau justru sangat manusiawi? Entah, hanya manusia yang bisa melakukan hal keji. 

Pemuda bernama Tuan masih linglung, entah Descartes, Oscar Wilde, atau Jalaluddin Rumi yang termaksud. Ia bukan manusia, ia hewan bernama manusia. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pelarian dari Kehidupan yang Melankolis, Makna Lagu Barasuara - Hitam dan Biru

Pada 21 Juni 2024, Barasuara telah merilis album ketiga mereka yang berjudul ‘Jalaran Sadrah' yang diambil dari bahasa jawa yang bermakna karena pasrah. Album ini memiliki jangka 4 tahun dari album sebelumnya yang bertajuk ‘Pikiran dan Perjalanan’. Lirik yang ditulis dalam lagu Hitam dan Biru merupakan hasil olah pikir Iga Massardi dan juga komposisi dari Puti Chitara, ditambah dengan sentuhan legenda musik Indonesia yakni Erwin Gutawa serta dilanjutkan oleh Czech Symphony Orchestra kian membuat kesan yang mewah dan mendalam.  Hitam dan biru membawa suasana kelam dalam kehidupan, pelarian seseorang dari banyak masalah dan rintangan. Lagu ini mengingatkan kita bahwa sejauh apapun kita lari dari kehidupan, pastinya akan terkejar. Kita adalah manusia yang entah benar atau salah, lawan segala masalahmu, jangan lari. Hitam dan Biru – Barasuara Di batas petang aku akan datang Bawa berita kurang menyenangkan Tentang hidupku, tentang hidupmu Yang penuh pertanyaan, penuh penyangkalan Mengap...

Varemara

(ilustrasi pulau menggunakan bantuan ai) Penghuni pulau ini tidak makmur, tidak kaya, tidak pintar, sedikit bahagia, kurang lebih seperti itu jawaban dari kuli angkut di dermaga. Padahal, pikirku pulau ini begitu makmur dengan hutan bakau di sekitar pantai, pasir putih mengelilingi pulau, hingga terumbu karang yang kaya akan kehidupan. Pulau Varemara namanya, ujar kuli angkut sambil menurunkan barangku di hostel. “Nama yang bagus! Bukankah begitu?”—respon ku spontan. “Segala hal terlihat indah nak. Tak segala yang indah dan sedap dipandang selalu baik, ingatlah itu. Oh, kalau butuh bantuan, hubungi diriku ya”, ia pergi setelah menerima upahnya. Aku iri pada Varemara mulai awal langkahku memasuki Varemara, penerima turis disini begitu ramah, aksen bahasa yang halus, serta tidak sedikitpun ada pungutan liar, duhai tenangnya. Harapku nyaman tinggal disini hingga kematian nanti, pikirku dalam hati. Hostel tempatku tinggal begitu sederhana, perpaduan antara semen dan kayu jati membuatnya el...

Sosok Tunggu Kiris di Kosan

Setelah Nongkrong, di kosan sugiono Malam sudah lewat jam sebelas waktu aku akhirnya cabut dari warung kopi. Sisa-sisa obrolan ngalor-ngidul sama anak-anak kampus masih nempel di kepala. Sebelum balik ke kamar, aku mampir dulu ke kosan Sugiono, niatnya cuma mau balikin jaket yang kemarin aku pinjam. Kosan Sugiono ini ada di ujung gang buntu, bangunan tua yang kayaknya udah menyerah sama zaman. Di bawah cahaya remang dari satu-satunya lampu jalan yang masih hidup, tempat itu kelihatan lebih... aneh dari biasanya. Koridornya sempit, temboknya lembap dan penuh bercak jamur. Beberapa genteng kelihatan sudah melorot, bikin langit malam jadi hiasan atap yang bolong. Sandal jepit dan sepatu butut berserakan asal-asalan di depan pintu-pintu kamar yang tertutup rapat. Di sudut, genangan air sisa hujan tadi sore memantulkan cahaya bulan, diam tak beriak. Suasananya hening banget. aku ketuk pintu kamar Sugiono, kayu tripleknya terasa tipis di tangan. "Woy, Gi!" Nggak ada jawaban. Tapi d...